Kejahatan di era globalisasi tidak lagi mengenal batas-batas wilayah administrasi suatu negara. Tindak pidana seperti perdagangan narkotika, terorisme, hingga kejahatan siber kini beroperasi lintas negara (transnational crime), menuntut respon terkoordinasi dari aparat penegak hukum internasional. Dalam konteks ini, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) memainkan peran aktif dan vital dalam Menjaga Keamanan regional, terutama di kawasan ASEAN, dan global melalui berbagai mekanisme kerja sama. Keterlibatan Polri dalam forum internasional bukan sekadar kewajiban diplomatik, melainkan kebutuhan operasional untuk mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan yang berusaha melarikan diri atau bersembunyi di yurisdiksi lain. Sinergi ini menjadi kunci utama dalam memastikan stabilitas hukum dan keamanan bersama.
Salah satu platform kerja sama paling penting yang diikuti oleh Polri adalah Interpol (Organisasi Polisi Kriminal Internasional). Indonesia menjadi anggota aktif Interpol dan memiliki NCB (National Central Bureau) yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara Polri dengan 196 negara anggota lainnya. Melalui NCB Interpol Indonesia, Polri dapat mengakses sistem data Interpol, termasuk Red Notice untuk penangkapan buronan, Yellow Notice untuk orang hilang, dan Black Notice untuk identifikasi jenazah. Sebagai contoh nyata, pada hari Jumat, 10 Januari 2025, Polri berhasil menangkap seorang buronan kasus penipuan investasi bernilai miliaran rupiah yang bersembunyi di Malaysia, berkat penerbitan Red Notice dan koordinasi cepat dengan Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) dan otoritas bandara Kuala Lumpur.
Di tingkat regional, peran Polri sangat menonjol dalam Menjaga Keamanan di kawasan Asia Tenggara melalui mekanisme ASEANAPOL (ASEAN Chiefs of Police). Forum ini rutin mengadakan pertemuan tahunan untuk membahas isu-isu keamanan terkini dan menyusun rencana aksi bersama, termasuk operasi gabungan di wilayah perbatasan dan pelatihan bersama. Pertemuan ASEANAPOL yang terakhir diselenggarakan pada 20-22 September 2024 di Vietnam, menghasilkan kesepakatan untuk meningkatkan pertukaran informasi intelijen mengenai jaringan perdagangan manusia dan penyelundupan senjata api. Peran aktif Polri dalam forum ini menunjukkan kepemimpinan Indonesia dalam mempromosikan keamanan dan stabilitas di Asia Tenggara.
Komitmen Polri dalam Menjaga Keamanan juga diwujudkan melalui pengiriman Misi Pemelihara Perdamaian PBB (Peacekeepers). Kontingen Garuda Bhayangkara (Garbha) Polri secara berkala mengirimkan personel ke wilayah-wilayah konflik di bawah mandat PBB. Personel Polri yang diberangkatkan harus melalui pelatihan intensif, termasuk kemampuan bahasa asing dan keterampilan negosiasi. Kontingen terbaru yang diberangkatkan, misalnya, terdiri dari 140 personel yang bertugas di Sudan, dan mereka memulai masa tugasnya pada hari Minggu, 27 April 2025. Penugasan ini tidak hanya menjadi sarana peningkatan profesionalisme personel, tetapi juga merupakan kontribusi nyata Indonesia dalam menjaga perdamaian dan keamanan global, sesuai dengan amanat konstitusi. Melalui berbagai kerja sama lintas batas ini, Polri memastikan bahwa kedaulatan negara dan keselamatan warga tetap terjaga dari ancaman yang bersifat global.
