Inisiatif yang dinamakan Polisi Mengaji ini melibatkan para personel bhabinkamtibmas yang memiliki kemampuan literasi Al-Qur’an yang mumpuni. Para petugas ini tidak hanya datang ke desa-desa untuk melakukan patroli keamanan atau memberikan penyuluhan hukum, tetapi juga duduk bersama warga di musala dan masjid untuk mengajarkan makhraj serta tajwid. Pendekatan ini terbukti sangat efektif dalam mencairkan batasan antara aparat dan rakyat. Ketika seorang polisi bersedia meluangkan waktu untuk mengajar mengaji, kepercayaan masyarakat tumbuh secara alami. Hubungan emosional yang terbangun melalui aktivitas spiritual ini menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam menjaga stabilitas keamanan wilayah.
Target utama dari program ini adalah anak-anak dan lansia yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan formal keagamaan. Dengan semangat untuk Berantas Buta Huruf, para personel Polri ini membawa metode pembelajaran yang menyenangkan dan mudah dipahami. Al-Qur’an dipandang sebagai pedoman hidup yang mengandung nilai-nilai perdamaian, kejujuran, dan kasih sayang—nilai-nilai yang sejatinya sejalan dengan tugas pokok kepolisian dalam menciptakan ketertiban. Dengan masyarakat yang semakin religius dan memahami tuntunan agamanya, potensi terjadinya tindak kriminalitas maupun paham radikalisme dapat ditekan sejak dini melalui pemahaman literasi keagamaan yang lurus.
Dampak positif dari program ini mulai dirasakan secara signifikan di berbagai titik di Banten. Orang tua merasa terbantu karena anak-anak mereka mendapatkan tambahan bimbingan belajar secara gratis dari sosok yang mereka kagumi sebagai pelindung negara. Di sisi lain, para personel polisi yang bertugas juga mendapatkan manfaat batiniah. Mengajar adalah bentuk pengabdian yang paling tulus, dan melihat warga binaannya mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar memberikan kepuasan spiritual tersendiri yang tidak bisa diukur dengan materi. Hal ini sekaligus mematahkan stigma bahwa tugas polisi hanya berkaitan dengan penangkapan pelaku kejahatan atau pengaturan lalu lintas semata.
Keberhasilan program ini juga didukung oleh sinergi yang baik dengan tokoh agama setempat. Para ulama dan kiai memberikan apresiasi tinggi terhadap keterlibatan aktif institusi kepolisian dalam urusan umat. Sinergi ini menciptakan ekosistem keamanan yang berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal. Secara jangka panjang, Program ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak wilayah terpencil. Dengan meningkatnya kualitas literasi keagamaan, masyarakat akan memiliki filter moral yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di masa depan. Upaya yang dilakukan oleh pihak berwenang ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir tidak hanya untuk menegakkan hukum, tetapi juga untuk mencerdaskan dan memuliakan kehidupan spiritual warganya.
