Pelaksanaan tugas pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli (Turjawali) oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) telah bertransformasi secara signifikan berkat adopsi perangkat digital canggih. Pemanfaatan Teknologi dalam Turjawali, seperti body camera dan drone, bukan hanya meningkatkan pengawasan tetapi juga menjamin transparansi dan akuntabilitas petugas di lapangan. Integrasi Teknologi dalam Turjawali ini merupakan langkah maju untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih efisien dan terukur, sekaligus menjadi sarana penting dalam pengumpulan bukti digital.
Penggunaan Body Camera oleh petugas di lapangan menawarkan dimensi transparansi yang sebelumnya tidak mungkin dicapai. Kamera yang dipasang di seragam ini merekam interaksi antara petugas dan masyarakat secara audio-visual dari sudut pandang polisi. Hal ini sangat krusial dalam situasi konflik atau penangkapan, di mana rekaman tersebut dapat berfungsi sebagai bukti objektif yang kuat di pengadilan, melindungi petugas dari tuduhan palsu dan sebaliknya, menjamin masyarakat dari potensi penyalahgunaan wewenang. Institusi kepolisian telah menetapkan pedoman ketat, di mana semua rekaman dari Body Camera wajib disimpan pada server terpusat setidaknya selama 60 hari. Prosedur ini dimulai efektif sejak Januari 2025 di beberapa Kepolisian Resor (Polres) metropolitan, sebagai bagian dari program modernisasi.
Sementara itu, Drone mewakili lompatan besar dalam Teknologi dalam Turjawali untuk pengawasan skala luas. Drone dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi, memberikan pandangan udara yang sangat berharga untuk beberapa skenario:
- Pengaturan Lalu Lintas: Selama periode arus mudik dan balik (misalnya Lebaran), drone dapat memantau kepadatan di ruas jalan tol atau simpul kemacetan yang sulit dijangkau, memungkinkan petugas di Command Center untuk mengambil keputusan taktis secara real-time.
- Penjagaan Acara Besar: Dalam pengamanan kegiatan keramaian umum, seperti konser atau unjuk rasa, Drone memberikan situational awareness bagi komandan lapangan, membantu memprediksi pergerakan massa dan mencegah eskalasi konflik.
Teknologi dalam Turjawali ini memungkinkan Mekanisme Operasional yang lebih prediktif dan reaktif. Data yang dikumpulkan dari Body Camera dan Drone kemudian diintegrasikan ke dalam sistem analitik untuk mengidentifikasi pola kejahatan dan area berisiko tinggi (hotspot). Hal ini memungkinkan pengerahan patroli yang lebih tepat sasaran, mengoptimalkan sumber daya manusia, dan secara konsisten Menurunkan Angka Kriminalitas. Komitmen Polri dalam mengadopsi dan memanfaatkan Teknologi dalam Turjawali ini jelas menunjukkan langkah proaktif menuju kepolisian yang modern dan akuntabel di era digital.
